Nenek 65 Tahun Penderita Katarak di Palembang Hidup di Gubuk Reyot, Diduga Belum Tersentuh Bantuan

Palembang – Shafaindonesia.com, Potret pilu kembali menyayat hati. Seorang lanjut usia bernama Cekna (65), warga Jalan Faqih Usman, SU 1, Kota Palembang, diduga telah puluhan tahun hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa tersentuh bantuan pemerintah.
Berdasarkan keterangan keluarga dan warga sekitar, Cekna bersama anak tunggalnya telah menempati sebuah gubuk yang jauh dari kata layak huni selama kurang lebih 45 tahun. Ironisnya, hingga kini belum terlihat adanya perhatian serius dari pihak terkait, baik pemerintah kota maupun instansi sosial lainnya.
Kondisi kesehatan Cekna pun kian memburuk. Di usia senja, ia mengalami keterbatasan fisik, termasuk gangguan penglihatan akibat penyakit katarak. Dengan kondisi tersebut, ia tidak lagi mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Saya sangat berharap ada bantuan dari pemerintah. Ibu saya sudah tua dan tidak mampu lagi bekerja,” ujar Eni Anggraini, anak tunggal Cekna, Rabu (15/4/2026).
Untuk bertahan hidup, Eni harus bekerja serabutan sebagai buruh upahan, salah satunya mengolah daun nipah. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka hidup dalam keterbatasan, bahkan untuk memperbaiki tempat tinggal pun tidak mampu.
Cekna mengaku selama ini belum pernah merasakan bantuan dari program pemerintah, meskipun berbagai program sosial kerap digulirkan. Ia merasa seolah keberadaannya luput dari perhatian.
“Selama ini kami seperti tidak dianggap ada. Padahal kami benar-benar butuh bantuan. Saya sudah tidak bisa bekerja lagi,” ungkap Cekna lirih.
Kondisi rumah yang ditempati sangat memprihatinkan. Atap bocor, dinding lapuk, serta struktur bangunan yang rapuh menjadi ancaman serius setiap saat, terlebih bagi seorang lansia dengan kondisi kesehatan terbatas.
Kisah ini menjadi pengingat bagi semua pihak, khususnya pemerintah setempat, agar lebih peka dan responsif terhadap kondisi warga yang membutuhkan. Harapan besar kini tertuju pada hadirnya perhatian dan tindakan nyata, agar Cekna dapat menjalani sisa hidupnya dengan lebih layak.
Akankah suara dari sudut Kota Palembang ini akhirnya didengar? Warga berharap, kisah ini tidak sekadar menjadi cerita pilu, tetapi menjadi awal dari kepedulian nyata.
Pewarta: YNT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *