Shafaindonesia.com
Empat Lawang-Sumatera Selatan
Di tengah harapan besar terhadap perbaikan kualitas pendidikan, muncul fenomena ironis yang kian sering terdengar: oknum kepala sekolah yang kurang disiplin justru dipandang semakin hebat. Fenomena ini bukan sekadar cerita pinggiran; ia mencerminkan persoalan struktural dalam tata kelola pendidikan kita.
Ketika Keteladanan Tidak Lagi Jadi Standar
Kepala sekolah seharusnya menjadi figur panutan—bukan hanya dalam hal administratif, tetapi juga moral, integritas, dan kedisiplinan. Namun terdapat kasus-kasus di lapangan di mana kepala sekolah yang sering terlambat, kurang transparan dalam pengelolaan program, atau mengabaikan etika profesional tetap mendapat pujian dari pihak tertentu.
Yang lebih memprihatinkan, perilaku tidak disiplin itu terkadang dianggap “biasa”, bahkan “tanda fleksibilitas kepemimpinan”. Padahal, toleransi semacam ini justru merusak ekosistem pendidikan dari dalam.
Budaya Pencitraan yang Mengaburkan Realitas
Banyak dari “kehebatan” tersebut sebenarnya bersumber dari pencitraan: laporan kegiatan yang tampak sempurna di atas kertas, unggahan media sosial yang menunjukkan sekolah penuh prestasi, atau kemampuan berkomunikasi yang meyakinkan. Namun pencitraan tidak bisa menutupi fakta bahwa budaya disiplin di sekolah sering terabaikan.
Ketika pencitraan lebih dihargai daripada perubahan nyata, maka pemimpin yang sebenarnya problematik dapat tampil sebagai pahlawan pendidikan.
Lingkungan yang Membiarkan, Bahkan Menguatkan
Fenomena ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada lingkungan yang secara tidak langsung membiarkan atau menguatkan perilaku tersebut, seperti:
bawahan yang takut mengkritik,
komunitas yang terpesona oleh simbol-simbol keberhasilan semu,
atau sistem birokrasi yang menilai prestasi hanya dari laporan, bukan tindakan nyata.
Selama pola ini bertahan, maka oknum-oknum yang kurang disiplin akan terus “naik pangkat” secara sosial, sementara pendidik yang benar-benar bekerja dengan integritas justru terabaikan.
Mengapa Ini Berbahaya?
Karena kepala sekolah adalah figur kunci. Ketika pemimpinnya tak memberi teladan, guru kehilangan arah, siswa kehilangan panutan, dan nilai-nilai pendidikan terdegradasi. Pendidikan tidak hanya soal kurikulum—ia juga soal karakter.
Dan karakter tidak bisa dibangun di atas fondasi kepemimpinan yang rapuh.
Menuntut Kembali Makna “Hebat”
Sudah saatnya masyarakat, guru, orang tua, dan pemangku kebijakan mempertanyakan ulang: apa makna kepala sekolah yang hebat?
Apakah yang pandai membuat pencitraan?
Atau yang menjalankan disiplin, integritas, dan kepemimpinan sejati meski tanpa publikasi?
Jika kita ingin pendidikan berubah, maka standar kepemimpinan juga harus berubah. Kehebatan bukan tentang pujian, tetapi tentang keteladanan yang nyata.
Saroni