Shafaindonesia.com, Pesisir Barat— Tugas seorang kepala sekolah tidak hanya mengatur administrasi, tetapi juga memastikan seluruh guru memiliki sikap terbuka, beretika baik, serta berjiwa sosial tinggi demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa.
Namun, dugaan kelalaian mencoreng nama salah satu sekolah dasar di Pekon Biha, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat. Seorang siswa kelas III mengalami insiden saat mengikuti pelajaran olahraga, namun pihak sekolah diduga tidak segera memberikan pertolongan yang semestinya.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, peristiwa itu terjadi pada Selasa, 29 Juli 2025, sekitar pukul 07.30 WIB. Saat mengikuti pelajaran olahraga yang dibimbing oleh guru bernama Roli, siswa tersebut mengalami cedera hingga giginya patah dan mulutnya berdarah.
Ironisnya, meski dalam kondisi berlumuran darah, sang siswa justru diminta untuk tetap mengikuti pelajaran hingga selesai tanpa dibawa ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis.
Orang tua korban mengaku telah mencoba mengonfirmasi kejadian itu kepada wali kelas, Suryani, namun justru mendapat respons yang dinilai angkuh dan tidak menunjukkan empati.
“Yang kami sesalkan, pihak sekolah tidak memberi pertolongan. Malah anak kami disuruh melanjutkan pelajaran. Kami hanya meminta tanggung jawab karena ini menyangkut masa depan anak kami,” tegas orang tua siswa.
Lebih mengecewakan lagi, saat orang tua mencoba menanyakan kejelasan kepada wali kelas, mereka justru mendapatkan jawaban singkat bahwa sang wali kelas sedang menghadiri kondangan dan tidak mengetahui kejadian tersebut. Bahkan, menurut orang tua, nomor WhatsApp mereka diblokir oleh wali kelas setelah melakukan konfirmasi.
Pihak media kemudian menghubungi Kepala Sekolah SDN 51 Krui, Puryadi, S.Pd, untuk mendapatkan keterangan. Ia membenarkan adanya insiden tersebut.
“Betul, masalah itu memang terjadi di sekolah kita. Namun, pihak wali kelas dan guru olahraga yang mengajar saat itu sudah menyelesaikan permasalahan ini dengan wali murid,” ujar Puryadi.
Meski kepala sekolah menyatakan persoalan telah diselesaikan, orang tua korban merasa belum mendapatkan klarifikasi dan pertanggungjawaban yang layak dari pihak sekolah.
tim red