Transparansi yang Hilang: Orang Tua Korban Pelecehan di SMK Waskito Menuntut Keadilan

Shafaindonesia.com
Sabtu, 10 Mei 2025
Kota Tangerang Selatan – Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang siswa kakak kelas di SMK Waskito kini memasuki babak baru yang penuh tantangan. Setidaknya ada empat korban yang telah menyampaikan pengakuan kepada kuasa hukum Abdul Hamim Jauzie, namun hanya satu dari mereka yang berani melaporkan kejadian tersebut secara resmi kepada pihak kepolisian.

Pada hari ini, Kamis, 8 Mei 2025, sejumlah orang tua korban diundang oleh pihak SMK Waskito untuk mendengarkan penjelasan terkait kasus yang sedang berlangsung.

Namun, Hamim menilai bahwa forum ini justru mengindikasikan bahwa sekolah lebih mengutamakan kepentingan pihak pelaku dibandingkan dengan korban.

*Seharusnya yang lebih dulu didengarkan adalah suara korban. Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka butuhkan? Itu yang harusnya menjadi prioritas,* tegas Hamim dengan nada serius.

*Pertanyaan Tentang Komitmen Sekolah*

Hamim juga mempertanyakan sejauh mana komitmen pihak sekolah dalam mendampingi korban dari sisi pendidikan dan psikologis.

*Saya sempat mempertanyakan, apakah dalam penanganan ini ada perhatian terhadap aspek edukasi dan penanganan emosional para korban? Ini penting, karena mereka pasti mengalami trauma secara psikologis,* jelasnya.

Ironisnya, salah satu orang tua terduga pelaku telah mendatangkan pengacara untuk mendampingi anaknya.

Namun, pihak sekolah justru lebih awal memberikan ruang kepada terduga pelaku untuk berbicara.

*Ini menurut kami sangat aneh. Sekolah justru memberi panggung lebih dulu kepada pelaku. Padahal korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan perhatian penuh,* ungkap Hamim, menyoroti ketidakadilan yang dialami oleh para korban.

Kekecewaan Terhadap Transparansi Sekolah
Selain itu, Hamim juga mengungkapkan rasa kecewa terhadap sikap pihak sekolah yang dianggap tidak transparan kepada orang tua korban mengenai apa yang terjadi.

*Pihak sekolah sama sekali tidak memberi tahu orang tua korban tentang kasus ini. Justru orang tualah yang mengetahui kejadian ini dari anak mereka sendiri, setelah kabar menyebar di lingkungan sekolah dan desa,* ujarnya saat ditemui di SMK Waskito.

Kami telah mencoba mengonfirmasi situasi ini kepada pihak SMK Waskito, baik kepada Kepala Sekolah maupun pihak terkait lainnya. Namun, mereka semua enggan memberikan tanggapan.

Bahkan, setelah pertemuan dengan orang tua korban, banyak wartawan yang menunggu terpaksa harus gigit jari tanpa mendapatkan keterangan resmi.

Hanya ada keterangan dari Humas Yayasan sebelumnya yang menjelaskan bahwa kasus dugaan pelecehan tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan Provinsi Banten dan Kementerian Pendidikan.

*Mungkin jelasnya bisa ke sana saja (Dinas Pendidikan Banten), karena sudah kita lepaskan ke dinas terkait. Sudah kita serahkan semua ke dinas pendidikan dan kementerian,* ujar Humas SMK Waskito, menunjukkan sikap defensif dalam menghadapi situasi.

Inti dalam Kasus ini harus Memerlukan Tindakan Tegas untuk Melindungi Korban.

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan dan perhatian yang harus diberikan kepada korban pelecehan seksual, terutama di lingkungan pendidikan.

Pihak sekolah harus lebih responsif dan transparan dalam menangani kasus-kasus sensitif seperti ini, serta memberikan dukungan yang diperlukan agar korban dapat pulih dari trauma yang dialaminya.

Dengan adanya pengawasan dan intervensi yang tepat, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa depan, dan setiap siswa dapat merasa aman dan terlindungi di lingkungan sekolah.
Tim/Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *