Amril Syarifuddin Tegaskan : Konflik Masjid Muhammadiyah Simpang Perigi

Shafaindonesia.com,//Empat Lawang – Konflik internal antara Pengurus Cabang Muhammadiyah Simpang Perigi dengan pengurus Masjid Simpang Perigi saat di konfirmasi di via whatsapp hingga kini belum menemui titik terang. Polemik ini mencuat seiring perbedaan pandangan terkait status Masjid Al-Mujahidin Simpang Perigi, apakah merupakan masjid Muhammadiyah atau masjid raya milik pemerintah.

Ketua Cabang Muhammadiyah Simpang Perigi periode 2023–2028, Amril Syarifuddin, menegaskan bahwa pernyataan yang menyebut mantan Bupati Empat Lawang H. Budi Antoni (HBA) menolak membantu pembangunan masjid Muhammadiyah adalah tidak benar.
“Pak HBA secara langsung menyampaikan kepada saya melalui video call bahwa beliau tidak pernah menolak proposal pembangunan masjid, baik dari Muhammadiyah, NU, maupun yayasan lainnya. Bantuan diberikan sesuai dengan asal proposal,” ujar Amril.
Permasalahan ini berawal setelah satu tahun kepemimpinan Amril berjalan. Sebelumnya, menurut Amril, kepengurusan Muhammadiyah Simpang Perigi mulai menunjukkan kemajuan, meski kondisi keuangan cabang saat itu kosong.
Di masa kepemimpinannya, Masjid Al-Mujahidin yang lama dan sudah rapuh berhasil dibongkar berkat kerja sama warga. Selain itu, sejumlah fasilitas pendidikan juga dibenahi, di antaranya pembangunan WC permanen di SD Muhammadiyah yang sebelumnya tidak memiliki fasilitas sanitasi, pemasangan listrik sekolah, serta pemerataan halaman sekolah yang kini dapat digunakan sebagai lapangan olahraga.
“Biaya pendozeran halaman sekolah masih tersisa sekitar tujuh juta rupiah dan itu saya tanggung memakai uang pribadi,” ungkap Amril.
Namun menjelang tahun kedua kepengurusan, muncul pernyataan dari dua mantan Ketua Cabang Muhammadiyah, inisial I dan R, yang menyebut bahwa Masjid Al-Mujahidin bukan masjid Muhammadiyah, melainkan Masjid Raya Simpang Perigi.
Alasan yang dikemukakan, menurut Amril, berkaitan dengan pengajuan proposal ke Pemkab Empat Lawang pada masa kepemimpinan HBA, yang disebut-sebut tidak dapat memproses bantuan jika masjid tersebut mengatasnamakan Muhammadiyah.
Klaim itu kemudian dibantah langsung oleh HBA saat dihubungi Amril. “Saya tidak pernah mengatakan tidak mau membantu pembangunan masjid Muhammadiyah,” tegas HBA sebagaimana disampaikan Amril.
Amril juga menyayangkan sikap para mantan ketua yang selama bertahun-tahun memimpin cabang Muhammadiyah namun dinilai tidak membawa kemajuan signifikan, khususnya dalam pengelolaan pendidikan.
“Dulu siswa SD Muhammadiyah ratusan dan bahkan melebihi SD Negeri. Sekarang tinggal belasan siswa. Tidak ada perkembangan berarti selama mereka menjabat,” kata Amril.
Ia juga menilai pernyataan yang menyebut masjid tersebut bukan milik Muhammadiyah bertentangan dengan fakta di lapangan. Menurutnya, sejak awal masjid tersebut jelas menggunakan identitas Muhammadiyah, mulai dari logo matahari di bangunan hingga nama yang tercantum dalam proposal dan sekretariat pembangunan.
“Selama ini mereka sendiri selalu menyebut ‘Masjid Muhammadiyah yang kita cintai’. Tapi kenapa sekarang berubah?” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *